IKHLAS

IKHLAS

Ikhlas, satu kata yang mudah diucapkan tapi begitu susah untuk diterapkan. Terlampau susah, sampai aku sendiri tidak mengerti. Apa aku yang tidak pandai bersyukur dengan apa yang sudah kumiliki. Sungguh ingin diri ini mengikhlaskan semua yang sudah terjadi dan semua yang sudah diberi. Namun sungguh nista diri ini, masih saja mengingat yang sudah terjadi dan menambah beban di diri. Mungkin harus kulapangkan dada ini atau harus kuperluas seperti samudra hingga hati dan diri ini bisa ikhlas. Entahlah, sungguh kata yang satu ini sungguh sangat sulit diselami oleh diri hingga jiwa ini masih terombang – ambing dalam luasnya samudra kehidupan. Sungguh lelah diri ini menyelami luasnya samudra kehidupan tanpa adanya ikhlas dalam diri.

Aku ingin langkahku ringan, seringan angin. Dan Aku ingin senyum cerah tanpa adanya beban yang menggantung di sana. Aq benci dengan senyuman sinis ini, senyum yang sering kali kugunakan untuk menatap dunia. Tak ada untungnya aku bersikap seperti itu, tapi aku puas melakukannya. Berusaha terus menerus menipu diri tanpa tau kapan harus berhenti.

Aku lelah seperti ini, namun satu kata itu tak juga dapat kupahami. Kadang ketika ku mulai belajar memahami dan menjalankannya, langkahku mulai teseok dan akhirnya aku terjatuh lagi tanpa bisa memahaminya secara hakiki. Abah selalu berkata, semua ini hanya titipan datang dan pergi atas kehendak-Nya, maka ikhlaslah. Namun tak juga benar-benar dapat kuresapi kata-kata itu.

Sampai saat ini Aq terus mencari, mencari cara membuat diri ini mau memahami yang namanya ikhlas. Sungguh satu kata yang memerlukan jiwa besar untuk benar-benar bisa memahami dan melaksanakan bukan hanya sekedar mengucapkannya. Karena sering kali aku mendengar orang berkata ikhlas tapi mulut tanpa henti terus mengeluh dan aku tak ingin seperti mereka. Aku ingin bila diri ini sudah ikhlas tak ada satu kata keluh kesah pun yang keluar, yang ada hanya senyum ikhlas tanpa beban yang menyesakkan dada.