Save Our Kids

Save Our Kids

Hati ibu mana yang tak teriris-iris ketika anaknya yang hilang ternyata benar-benar sudah menghilang dari dunia ini. Yang ada hanya jasadnya yang tertekuk di dalam kardus dalam keadaan tangan dan kaki terikat serta mulut di lakban. Mungkin itulah yang sekarang dialami oleh ibu dari Putri Nur Fauzia. Anaknya yang biasanya sudah berada di rumah sebelum jam 12 siang, saat itu tak kunjung pulang hingga menjelang malam. Segala upaya telah dilakukan oleh keluarga PNF untuk mencari putri mereka yang hilang, dari melapor ke RW hingga ke Kepolisian sektor Kalideres. Namun hari berganti tapi sang anak tak juga pulang. Hingga sabtu pagi, sekitar jam 09.00 WITA, polisi memberi kabar, kabar yang sangat buruk, kalau anak mereka sudah ditemukan, namun sudah tak bernyawa, terbungkus rapi di dalam kardus. Sang Ibu langsung pingsan, tak menyangka, jika pertemuannya dengan sang anak sebelum berangkat sekolah pada pagi hari itu adalah pertemuan terakhirnya dengan sang Putri. Naas memang, siapa yang menyangka seorang bocah perempuan yang ceria dibunuh dengan sadisnya oleh seseorang yang biadab.

 

PNF hanya satu dari banyak anak di Indonesia yang mengalami kekerasan hingga berujung kepada kematian. Namun Pemerintah seperti tidak juga serius menanggapi hal ini. Terbukti dengan masih ringannya hukuman bagi pelaku. Bukannya mereka adalah penerus bangsa ini, yang harus dilindungi dan dijaga sekiranya bangsa ini mempunyai penerus-penerus yang bisa membuat bangga bangsa ini. Tapi apa yang terjadi jika penerus-penerus bangsa ini sedari kecil sudah mengalami kekerasaan fisik maupun psikis. Saya tidak bisa membayangkan dan tidak ingin membayangkan hal itu. Karena itu akan seperti lingkaran setan, di mana anak yang mengalami kekerasan sedari kecil akan tumbuh menjadi orang dewasa dan melakukan kekerasan terhadap anak kecil lainnya. Dan akan terus menerus seperti itu. Maka dari itu, masalah ini harus ditanggapi dengan serius, karena anak-anak kita adalah aset masa depan kita yang tak ternilai harganya. Terkadang karena pekerjaan kita melupakan waktu kebersamaan dengan keluarga. Mengejar karir yang tidak ada ujungnya dan berujung dengan tumbuh dewasanya anak kita. Dan kitapun kehilang moment bersama mereka, karena waktu tak bisa diputar.

 

Terkadang kita tega meninggalkan anak kita pada babysister maupun pembantu untuk bekerja. Dilema memang, disisi lain mungkin mereka harus membantu suami mencari nafkah, tapi bukankah kodrat seorang wanita adalah sebagai ibu rumah tangga bukan ikut mencari nafkah untuk keluarga. Namun alangkah indahnya bila bisa membantu perekonomian keluarga namun juga tetap bisa menjaga anak di rumah. Namun hanya segilintir orang yang memiliki keberuntungan seperti ini. Kebanyakan wanita pekerja menitipkan anaknya kepada orang lain untuk bisa bekerja. Memang orang dijaman ini begitu mudah menitipkan anaknya kepada orang lain namun berpikir ulang jika harus menitipkan benda berharganya seperti emas, berlian, uang, dan lain-lainnya. Padahal anak adalah sebuah anugrah yang diberikan kepada kita yang tak ternilai hargana. Namun dengan begitu mudahnya kita tinggalkan pada orang lain, dan apabila sesuatu yang buruk terjadi, hanya penyesalan yang mengiringi. Karena nyawa yang telah pergi tak akan pernah bisa kembali lagi.