Pendidikan

Kegiatan Tanoto Foundation Untuk Menumbuhkan Minat Baca di Indonesia

Fakta memprihatikan terkait minat baca terpampang nyata di Indonesia. Studi yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu memperlihat kenyataan miris. Dalam riset bertajuk Most Littered Nation In the World itu, Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara dalam tingkat minat baca.

            Minat baca di negeri kita hanya lebih baik dari Bostwana. Padahal, dari segi infrastruktur, keadaan di Indonesia bisa lebih baik dari beberapa negara di Eropa yang terbilang lebih maju.

            “Penilaian berdasarkan komponen infrastruktur Indonesia ada di urutan 34 di atas Jerman, Portugal, Selandia Baru dan Korea Selatan,” papar mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan.

            Fakta tersebut memperlihatkan bahwa minat baca tidak terkait langsung dengan infrastruktur. Meski mendapat fasilitas memadai, belum tentu ketertarikan membaca akan hadir dengan sendirinya.

            Oleh karena itu, penting sekali untuk membuat terobosan dalam meningatkan minat baca. Salah satunya dengan membuat kegiatan membaca menjadi menyenangkan dan tidak membosankan.

            Upaya tersebut kini dilakukan oleh Tanoto Foundation yang didirikan oleh keluarga Sukanto Tanoto. Melalui program PelitaPustaka yang dilaksanakanbersamadengansekolahmitra di pedalaman Sumatera, mereka berusaha menjadikan perpustakaan sebagai tempat rekreasi yang menarik bagi anak. Untuk mewujudkannya, kegiatan Tanoto Foundation menggelar pelatihan kepada sejumlah pihak untuk menjadi fasilitator di perpustakaan.

            Salah satunya dilakukan di Kota Dumai pada 6 September 2016 lalu. Pesertanya adalah 22 orang guru dari Kota Dumai dan Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Mereka diberi pengajaran tentang cara membuat kegiatan membaca terasa menyenangkan bagi anak.

            “Agar anak senang membaca buku, perlu pendekatan yang menyenangkan. Jangan hanya diberitahukan kalau membaca buku itu baik atau akan menambah ilmu. Itu cara yang membosankan dan tidak lagi efektif,” kata Regional Project Officer Tanoto Foundation, Nurul Hasanah.

            Nurul menambahkan pada dasarnya anak sudah tertarik dengan buku. Maka, sejatinya mereka hanya perlu diberi stimulus agar kian menyukainya. Oleh karena itu, keterampilan untuk mengatur buku dan perpustakaan supaya menarik sangat krusial. Hal itu yang akhirnya diajakan kepada para guru yang bakal menjadi fasilitator di sekolahnya masing-masing dalam pelatihan tersebut.

            Salah satu trik yang diajarkan adalah mempermudah akses anak terhadap buku selain buku pelajaran. Hal itu bakal membuat anak-anak tertarik pergi ke perpustakaan untuk mencari bacaan yang disukai.

            “Awalnya memang untuk memberikan stimulus agar mereka senang membaca.  Berikan mereka buku-buku yang bermateri ringan namun menarik,” ujar Training Specialist Tanoto Foundation, Sasmoyo Hermawan.

            Kegiatan Tanoto Foundation diharapkan bisa berperan dalam meningkatkan minat baca di Indonesia. Pengusaha sukses Sukanto Tanoto yang mendirikan Tanoto Foundation meyakini bahwa pendidikan bisa menjadi salah satu cara mengentaskan kemiskinan.

Minat baca yang tinggi erat berkaitan dengan pendidikan yang baik. Sebab, kegemaran membaca sangat penting untuk menambah wawasan. Hal ini penting bagi kemajuan bangsa karena generasi mudanya mempunyai pengetahuan luas berkat kemauan dan hasrat baca yang tinggi. Apalagi jika kita ingat, anak-anak yang menjadi target utamakegiatanmeningkatkan minat baca adalah calon pemimpin Indonesia di masa depan.