Uang tip, perlukah?!

Uang tip, perlukah?!

Uang tip, pernah anda menerimanya atau memberikannya. Mungkin beberapa diantara anda ada yang pernah mengalami keduanya. Sebenarnya perlu atau tidak sebenarnya kita memberikannya?! Karena kadang kalau kita tidak memberikannya kita dianggap pelit dan dikemudian hari diberi pelayanan seadanya atau bahkan tidak dihiraukan. Kalau kita memberikan uang tip kepada pelayan restoran atau hotel saya kira itu wajar sebagi bentuk apresiasi kita terhadap pelayanan mereka. Lalu bagaimana dengan lembaga pelayanan Pemerintah? Haruskah kita memberikan mereka uang tip juga?!

Kemaren listrik di kantor saya mati sebagian, tak lama berselang listriknya mati total. Sebagai HRD, saya pun bergerak cepat dengan mendatangi kantor PLN terdekat. Di sana saya melaporkan kejadian yang terjadi di kantor saya dan kemudian mereka meminta alamat kantor saya. Dan saya pun bertanya, kapan petugasnya bisa datang ke kantor saya? Namun tidak ada jawaban pasti dari bagian pelayanannya. Dia hanya menyuruh saya untuk menunggu. Dan akhirnya dengan sedikit kecewa saya balik ke kantor dengan perasaan bingung, karena kegiatan operasional di Kantor tidak bisa berjalan.

Ditengah kepanikan saya berusaha mencari jalan keluar terhadap permasalahan listrik di kantor, disaat saya sedang menghubungi beberapa orang, datanglah dua petugas PLN. Rasanya seperti dapat jackpot, bahagia sekali rasanya hati ini. Beberapa saat kemudian, listrik di kantor saya kembali menyala. Ketika dua petugas itu akan beranjak pergi, kasir saya sudah memberikan kode, apakah saya mau memberikan tips? Tetapi saya tidak paham dengan kode yang dia berikan, dan akhirnya saya datangi kasir saya dan menanyakan tentang kode tadi. Ternyata kode tersebut menanyakan apakah saya tidak memberikan uang tips kepada dua orang PLN tersebut. Memang harus begitu kata saya, itu kewajiban mereka sebagai petugas PLN. Lalu karyawan saya yang lain mengatakan “ nanti kalau dipanggil lagi bakalan lama mba baru datang”. Koq gitu, “Tanya saya heran?!” Ia mba, mereka bakalan jera, timpal karyawan yang lain. Itu kan sudah tanggung jawab mereka, jawab saya. Ia tetap aja mba, anggap saja uang lelah mereka! Jawab karyawan saya lagi.

Sungguh bingung saya, jujur di kepala saya tidak terbesit tentang uang tips tersebut. Menurut saya itu adalah pekerjaan mereka dan memberikan pelayanan yang terbaik memang sudah menjadi tanggung jawab mereka. Haruskah saya memberi uang tips kepada mereka?! Pertanyaan itu masih mengganggu pikiran saya. Apakah mereka hanya mau memberikan pelayanan terbaik kepada orang-orang yang memberikan mereka uang tips sedangkan mereka sendiri sudah digaji di bawah instansi tempat mereka bernaung. Bukannya uang tips sudah berubah menjadi uang sogokan bila kejadiannya seperti itu. Dan masyarakat kita sendiri sudah membiasakannya dari hal – hal kecil seperti. Tak heran bila Negeri ini banyak dengan para Koruptor. Karena apabila orang-orang yang hanya mau bekerja jika dikasih uang tips tersebut menjabat suatu posisi yang lebih tinggi lagi di tempatnya bekerja, maka dia akan menerapkan uang tips yang lebih besar lagi.

Jujur, daripada harus memberikan uang tips kepada orang-orang seperti itu. Saya lebih memilih memberikan uang saya kepada orang yang lebih memerlukannya. Karena masih banyak orang-orang di luar saya yang memerlukan uluran tangan kita. Jadi saudara-saudaraku di luar sana, saya harap bisa lebih bijak dalam memberikan uang tips. Karena apabila kita salah dalam memilah, bisa jadi tanpa kita sadari kita telah memberikan sogokan kecil kepada koruptor kecil.