Negeri Di Atas Awan

Negeri Di Atas Awan

Kemarau tahun ini sangat panjang dan kekeringan melanda beberapa daerah. Sungai – sungai, waduk, dan bendungan mengering dan pendudukpun mengalami krisis air bersih. Tidak hanya manusia yang mengalami kekeringan, hewan dan tumbuhan pun mengalami hal yang sama. Tapi diantara manusia dan hewan, tumbuhanlah yang paling merasakan dampak paling besar dari kemarau berkepanjangan ini. Karena mereka tidak mempunyai kaki untuk melangkah, hanya bisa mengandalkan akar mereka untuk menjalar jauh ke perut bumi demi mendapatkan tetes demi tetes air. Namun akibat keserakahan manusia, air tanah semakin jauh dari permukaan bumi dan ini berakibat fatal bagi tumbuhan. Segala upaya dilakukan mereka untuk bertahan hidup, dari akar yang merengsek lebih jauh ke dalam tanah hingga menggugurkan daun-daunnya. Namun kadang cari ini tak juga berhasil dan akhirnya mereka mati dalam panasnya sinar matahari. Namun mereka tidak bisa berteriak ataupun mencaci maki atas apa yang telah terjadi kepada mereka. Mereka cuma bisa diam dan akhirnya mati dalam keheningan.

 

Sungguh malang kisah tumbuhan ini, belum selesai penderitaan mereka akibat kemarau berkepanjangan, kini tangan-tangan jahil manusia membantai mereka. Memanfaatkan kemarau panjang dan tumbuhan yang mulai mengering, mereka bakar hutan beserta isinya. Tidak pernah mereka pikirkan apa dampak dari keserakahan mereka. Yang mereka pikir hanya keuntungan mereka belaka. Manusia sekarang memang gila, gila akan harta dan tahta. Mereka bertindak hanya memikirkan kepetingan mereka dan kelompoknya. Tanpa memikirkan dampak tindakan mereka bagi banyak orang. Asap, y asap, hanya sedikit dampak yang ditimbulkan oleh tangan jahil yang telah membakar hutan. Puluhan ribu hektar hutan terbakar, tidak hanya membakar tumbuhan yang ada di dalamnya tapi juga hewan yang tinggal di dalamnya. Pernahkah mereka memikirkannya? Tidak. Pikiran mereka tidak sampai ke sana, hati mereka telah mereka gadaikan pada yang namanya keserakahan. Pembakaran hutan ini tidak hanya memusnahkan habitat flora, tapi juga fauna yang ada di dalamnya dan merubah ekosistemnya yang ada.

 

Kembali pada permasalahan asap, sekarang ini asap menyelimuti sumatra dan kalimantan. Dua pulau yang masih mempunyai lumayan banyak hutan. Ya lumayan, karena sedikit demi sedikit hutan mulai dilibas untuk perkebunan sawit dan batu bara. Dan keserakahan tangan manusia telah tega membakarnya. Asap di mana-mana, jarak pandang pendek, sekolah diliburkan, penerbangan dibatalkan, dan penderita ISPA semakin banyak tiap harinya. Rumah sakit dipenuhi oleh penderita ISPA, dari balita sampai orangtua. Semua terkena dampak akibat pekatnya asap di daerah mereka dan level udarapun sudah pada tingkat berbahaya. Miris, udara segar yang harus mudah untuk dinikmati seakan jadi barang mahal yang susah untuk didapatkan. Dan dua pulau ini sudah seperti negeri di atas awan karna kabut asap yang menyelimutinya atau seperti kota silenthill dalam film horor. Mungkin juga dua pulau ini perpanduan keduanya, negeri di atas awan yang menakutkan. Ya menakitkan, karena udara yang dihirup bisa mematikan penduduknya. Sungguh sebuah ironi lagi bagi Negeri ini.

 

Kabut asap yang tidak juga reda mengakibatkan dua negara tetangga kita merasakan juga nikmatnya kabut asap. Dan mereka seakan tidak terima dengan keadaan ini. Lucu sekali, sangat lucu. Lupakah mereka? Perusahaan milik negara mana yang telah tega membakar hutan di Negeri ini? Sebelum kalian protes bercerminlah!!! Rakyat di Negeri ini lebih menderita akibat ulah Perusahaan kalian!!! Dan kalian baru merasakan sedikit dampak dari ulah yang Perusahaan kalian lakukan!!! Helloooo….sadar dirilah!!! Akibat Perusahaan kalian sudah banyak orang utan di Negeri kami yang telah mati, sekarang hutan kami yang kalian bakar!!! Sungguh tidak tau diri sekali kalian!!! Kalian mengeruk untung dari tanah kami dan kalian sisakan sampah dan masalah bagi kami.

 

Ingin rasanya diri ini berteriak, mencaci dan memaki. Mewakili fauna dan flora di Negeri ini. Yang seperti tersisih dan terabaikan oleh rakyat di Negeri ini. Akupun sadar tak banyak yang telah kuperbuat untuk Negeri ini. Tapi suatu hari nanti, Aku pasti menyumbangkan sesuatu bagi Negeri ini. Sebagai manusia, kita sering kali lupa akan nikmat yang sudah diberikan, hingga lupa akan caranya bersyukur. Mari teman-teman, jagalah lingkungan sekitar kita, demi hidup yang lebih baik bagi anak cucu kita.