Me

Rentannya Ibu Rumah Tangga Mengalami Depresi

Ibu rumah tangga, sebuah pekerjaan mulia tanpa gaji, tanpa tunjangan, tanpa cuti namun kerap kali dipandang sebelah mata. Enak ya kamu sekarang di rumah saja ga usah kerja, itu mungkin yang kerap kali kamu dengarkan ketika bertemu mantan teman kerja. Entah apa definisi dari kata “enak” Yang mereka lontarkan. Sebagai ibu rumah tangga Yang pernah merasakan jadi seorang pegawai kantoran, saya katakan di sini bahwa menjadi ibu rumah tangga tidak seenak yang mereka kira dan pikirkan. Ketika sakitpun, seorang ibu rumah tangga tidak bisa cuti mengurus rumah dan anak. Semua harus tetap mereka jalankan. Ketika Rasa kantuk datangpun mereka tidak bisa langsung tidur selagi anak Belum tidur. Kalau pun ada yang menjaga nya mereka tetap tidak bisa benar-benar tidur. Kalaupun anak sudah tidur mereka terkadang tidak bisa ikutan langsung tidur. Ada pekerjaan yang sedang menunggu untuk dikerjakan. Tidak sepe

Walaupunbegitu, memang ada enaknya menjadi seorang ibu rumah tangga, saya bisa mengurus, mendidik dan mengawasi anak saya full 24 jam. Kasih sayang dan perhatian juga full tercurah ke buah hati dan mereka juga akan melakukan hal yang sama. Dihati merekapun hanya ada satu mama, tidak ada ibu, bunda, mommy atau apapun itu yang disematkan kepada orang yang mengasuhnya. Dan saya merasa sangat beruntung bisa mengasuh anak saya sendiri tanpa harus menitipkannya kepada orang lain. Beberapa pengasuh anak memang ada Yang baik, tapi tidak selalu. Karena sudah sering terjadi pengasuh menganiaya anak majikannya. Karena bukan perkara mudah merawat anak kecil apalagi bayi. Dibutuhkan kesabaran dan kesiapan mental. Apalagi bila anak tersebut cerewet, aktif dll, disini kesabaran dan kesiapan mental sangat dibutuhkan. Tak jarang orangtua kandungpun sering main tangan ketika sudah tidak bisa mengendalikan anaknya. Memang tak mudah menjadi seorang Istri dan juga seorang ibu. Apalagi seorang ibu rumah tangga, yang kesehariannya dihabiskan di dalam rumah tanpa banyak interaksi lagi dengan dunia luar. Hari-harinya bergelut dengan pekerjaan rumah yang seperti tidak ada habisnya. Jangankan untuk berdandan, untuk minumpun sering terlupa. Pekerjaan silih berganti menunggu. Selesai membereskan dapur, giliran ruang tengah yang dibuat berantakan anak, begitu terus menerus. Itupun masih dipandang sebelah mata dan diremehkan oleh mulut-mulut yang tidak bertanggung jawab

Ibu rumah tangga bukan wonder woman, Ada kalanya mereka merasa teramat lelah dan ingin menyerah. Namun hal ini jarang sekali dimengerti orang-orang disekitarnya. Belum lagi persoalan dengan suami, Yang makin menambah beban bathin mereka. Persoalan dengan suami dan orang-orang sekitarnya lah yang seringkali membuat ibu rumah tangga yang sudah kehilangan Iman dan kesadarannya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya beserta anak-anaknya. Seakan kematian adalah jalan satu-satunya untuk menyelesaikan segala permasalahan yang ada. Anak Yang tidak berdosa Dan tidak tahu apapun dibawa pergi ke alam keabadian sana.

Berjuanglah wahai para ibu rumah. Apapun masalah yang sedang kau hadapi pasti ada jalan keluarnya dan kematian bukan solusinya.