Me

Hujan disore itu

Hujan dikala itu begitu lebat, begitu indah, begitu menenangkan, begitu syahdu, begitu misterius dan begitu menakutkan. Sayangnya lelaki kesayanganku baru saja terbangun dari tidur indahnya tak lama ketika hujah mulai turun. Rintik suara hujan yang berjatuhan di genteng seperti memainkan melodi indah nan menenangkan, membuaiku dalam kantuk. Namun lelaki kesayanganku gigih mengajakku bermain kesana kemari. Ku coba merayunya dengan menyodorkan tontonan YouTube padanya. Namun itu tidak bertahan lama. Lelaki kesayanganku kembali menarik – narik tanganku agar aku beranjak dari tempat tidur dan mengikuti langkahnya untuk keluar kamar. Ternyata kamu menginginkan mama untuk membukakan pintu untukmu. Tidak sayang, cukup satu kali mama membiarkanmu bermain di bawah rintik hujan hingga kau demam tinggi. Namun apapun yang mama katakank, kau seolah tidak peduli. Kau tetap merengek minta dibukakan pintu. Akhirnya mama menyerah dan membukakan pintu untukmu.

Kita berdua berdiri di depan pintu, kau melihat ke arah depan sementara mulut mama komat kamit mengatakan padamu bahwa sedang hujan dan tidak bisa bermain diluar. Namun kau seperti tidak mendengarkan mama. Hingga akhirnya mama bertanya apa yang sedang kamu lihat atau apa yang sedang kamu pikirkan. Tiba – tiba kamu berteriak kegirangan sambil melambaikan tangan pada sebuah taxi putih yang lewat. Tumben ada taxi putih masuk komplek pikirku. Mungkinkah kai dan ninimu datang?! Tapi biasanya mereka menggunakan ojek untuk sampai kesini. Dipersimpangan jalan taxi putih tersebut putar arah dan kau masih terus berteriak girang dan melambaikan tangan. Tiba-tiba dari dalam taxi putih seorang pria juga melambaikan tangan padamu. Sepertinya itu kaimu, jarak pandang yang terbatas membuat mama tak bisa langsung mengenali bahwa itu kaimu. Hingga taxi putih itu berhenti di depan rumah dan dua orang paruh baya keluar dari dalam taxi putih tersebut. Ya, dua orang paruh baya itu adalah kaimu dan ninimu.

Di malam hari ketika ninimu menggorengkan makanan kesukaan mama, mama menghampirinya dan mengatakan kalau badan dia mulai berisi dan dia pun mengatakan hal yang sama. Sambil menahan isak tangis dia katakan dia selalu rindu, bahkan ketika melihat piring tetangga dia yang mirip dengan piring di rumah ini pun mampu membuat air matanya mengalir. Kemudian ninimu berkata, “aku sudah melarang abahmu untuk tidak ke sini, mama bilang tidak enak terlalu sering mengunjungimu, kasihan kalau kamu harus memberi sango untuk balik , tapi abahmu bilang dia ingin menjengukmu dan akan menjengukmu . Aku Cuma bisa terdiam mendengarkan ceritamu Ma, dengan segala pikiran yang berkecamuk. Menangis lah Ma jika kau ingin menangis. Biarlah air mata membasuh segala luka yang ada supaya tidak infeksi.