Me

Asap Menghilang, Banjir Menerjang

Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang beriklim tropis. Sebagai negara tropis, Indonesia hanya mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Namun musim kemarau ditahun 2015 teramat sangat panjang, sehingga menimbulkan kebakaran hutan yang cukup parah di Pulau Sumatra dan Kalimantan. Kebakaran hutan di kedua pulau ini tidak hanya disebabkan oleh panasnya terik matahari, namun juga karena ulah jahil tangan manusia. Sejumlah perusahaan sawit memanfaatkan kemarau panjang untuk melakukan perluasan lahan mereka untuk ditanami bibit kelapa sawit. Namun cara yang mereka lakukan sungguh sangat tidak ramah lingkungan, karena mereka membuka lahan baru dengan cara membakarnya.

Kebakaran hutan yang luas menyebabkan asap pekat melingkupi hutan dan wilayah di sekitarnya. Bahkan pekatnya asap menurunkan kualitas udara di sejumlah kota di Kalimantan dan Sumatra. Bahkan indikator udara yang dipasang menunjukan bahwa udara yang dihirup masyarakat berbahaya. Asap pekat tidak hanya mengganggu sistem pernafasan warga yang tinggal di Pulau Kalimantan dan Sumatra, namun juga mengganggu jarak pandang pengendara bermotor. Mereka harus berhati-hati karena jarak pandang yang terbatas.

images (8)

Kini musim kemarau telah berlalu dan sudah digantikan dengan musim hujan. Di awal-awal musim hujan, warga yang tinggal di pulau kalimantan dan Sumatra sangat bersyukur. Karena hujan yang datang dapat mengurangi pekatnya kabut asap dan mematikan sejumlah titik api di hutan. Namun kebahagiaan ini tidak berlangsung lama, karena kebakaran hutan yang luas membuat banyak lahan yang gundul dan hal ini membuat banjir di kala hujan turun terus menerus.

Beberapa kota di Pulau Sumatra dan Jawa banyak yang terendam banjir. Bahkan ketinggian air mencapai 2 sampai dengan 3 meter dan memaksa warga untuk mengungsi. Musim hujan tidak hanya membawa banjir bersamanya, namun juga membawa penyakit mematikan yang bernama DBD. Banjir tidak hanya menenggelamkan sejumlah rumah dan jalan, namun juga merenggut korban jiwa. Begitu pun dengan penyakit Deman berdarah, sudah banyak juga merenggut korban jiwa.

Kini musim Kemarau maupun musim hujan sama berbahayanya, kecuali kita bijak dalam menghadapi. Tuhan menganugerahkan alam semesta kepada kita untuk dimanfaatkan secukupnya dan dijaga kelestariannya, bukan merusaknya. Karena apabila alam sudah rusak akan perlu waktu lama untuk memulihkannya. Selain itu kerusakan alam lambat laun juga akan merugikan umat manusia. Maka sayangilah alam sekitar kita sebelum semuanya terlambat, karena penyesalan selalu datang diakhir.