Cuaca Ekstrim, salah siapa?

Musim kemarau sudah berganti dengan musim hujan, kabut asap yang dulu melanda pulau Kalimantan dan Sumatra pun berganti dengan banjir di Jakarta, Aceh dan beberapa kota lainnya di Indonesia. Di beberapa daerah hujan sering kali disertai dengan angin kencang yang mengakibatkan beberapa rumah dan pohon roboh.

Namun tidak hanya Indonesia saja yang mengalami cuaca ekstrim. Amerika, Jepang, dan Cina pun juga mengalami hal yang sama. Di mana musim dingin di negara-negara tersebut mencapai minus 450C. Bahkan ibukota Amerika serikat, Washington DC sempat menjadi kota mati ketika badai salju melanda. Warganya dihimbau untuk tidak keluar rumah, kalau tidak ada hal penting yang harus dilakukan. Badai salju di Washington DC menewaskan 3 orang, satu orang karena hipotermia dan dua lainnya disebabkan kecelakaan akibat jalanan yang licin.

Bumi memang sudah sangat tua, namun tuanya usia bumi bukan serta merta menjadi penyebab cuaca ekstrim yang sedang melanda dunia saat ini. Ulah manusia yang semena-menalah yang menjadi faktor utama kekacauan di bumi saat ini. Jangankan untuk bersahabat dengan alam, bersahabat dengan sesamanya pun sangat sulit dilakukan.

Saat alam sudah tidak mau bersahabat lagi dengan kita, mungkin barulah saat itu kita tersadar akan semua salah kita selama ini. Tuhan dengan begitu baiknya menganugerahkan kita sebuah planet biru untuk ditinggali. Namun sepertinya hal tersebut tidak kita syukuri hingga pada masanya alam akan menunjukkan murkanya. Saat hal itu terjadi sesal sudah tiada guna lagi. Maka dari itu sayangilah lingkungan tempat tinggal kita saat ini. Bila belum bisa melakukan sesuatu yang berguna bagi alam ini, sekurang-kurangnya kita tidak ikut merusaknya.